Lensa mahasiswa
Media pers IAI At-Taqwa Bondowoso- bergerak lewat tulisan bergerak dengan karya

Kesaktian Pancasila, Api yang Menyalakan Persatuan di Tengah Ujian Zaman

Oleh: Wildan Miftahussurur 

(Mahasiswa Pascasarjana IAI At-Taqwa Bondowoso dan Santri Ponpes Nurul Qarnain)

Setiap 1 Oktober bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah babak penting sejarah. Ada masa ketika Pancasila diguncang, persatuan bangsa terancam, dan darah rakyat tertumpah. Namun kenyataan membuktikan, dasar negara ini tidak runtuh. Justru sebaliknya, Pancasila semakin kokoh sebagai penopang rumah besar Indonesia.

Sejak awal kelahirannya, Pancasila lahir dari denyut nadi bangsa sendiri. Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial bukanlah konsep asing yang dipaksakan dari luar, melainkan cerminan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Karena itu, Pancasila diterima bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai titik temu yang menyatukan perbedaan.

Para pemikir bangsa sejak dulu menyadari hal itu. Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid, pernah menulis bahwa Pancasila bukan agama, tetapi memberi ruang hidup bagi semua agama. Sementara KH Ahmad Siddiq menegaskan Pancasila sebagai mitsaqan ghalizhan, perjanjian luhur yang mengikat bangsa ini untuk menjaga persaudaraan. Pandangan-pandangan ini menegaskan bahwa Pancasila bukanlah milik satu kelompok, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.

Kesaktian Pancasila bukan mitos. Ia terbukti mampu menyelamatkan bangsa dari ancaman ideologi yang ingin menafikan nilai ketuhanan dan menghapus jati diri bangsa. Tetapi ujian tidak berhenti pada masa lalu. Kini, Pancasila menghadapi tantangan yang berbeda: individualisme yang menumpulkan kepedulian, materialisme yang membutakan nurani, hingga polarisasi politik yang memecah belah persaudaraan. Bahkan di era digital, arus informasi yang tak terkendali sering melahirkan ujaran kebencian dan hilangnya empati.

Di tengah semua itu, Pancasila harus kembali dihidupkan, bukan hanya dalam upacara atau seremoni kenegaraan, tetapi dalam laku keseharian. Persatuan bisa tumbuh dari hal sederhana: gotong royong di lingkungan, solidaritas saat bencana, hingga saling menghormati di ruang publik. Sila-sila Pancasila menemukan maknanya justru ketika dihayati dalam tindakan nyata.

Dengan begitu, Kesaktian Pancasila bukanlah warisan masa lalu yang hanya dikenang, tetapi tekad kolektif untuk menatap masa depan. Selama nilai ilahi dijunjung, martabat manusia dihormati, dan persaudaraan dijaga, Pancasila akan tetap sakti. Ia adalah pelita kebangsaan yang memastikan Indonesia tetap berdiri tegak, bermartabat, dan diperhitungkan di mata dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *