Bondowoso, Lensa Mahasiswa. Lembaga Pers Mahasiswa IAI At-Taqwa (LPMA) kembali menunjukkan kiprahnya dalam mendorong budaya literasi di kalangan pelajar. Pada Selasa (25/11/25), LPMA memberikan pendampingan jurnalistik kepada siswa Madrasah Aliyah (MA) Al-Irsayd Bondowoso dalam sebuah sesi pelatihan yang berlangsung intensif dan interaktif.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Madrasah Al-Irsayd, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kemampuan literasi dan keterampilan jurnalistik di era informasi yang serba cepat. Menurutnya, pelajar perlu dibekali kemampuan memahami, memilah, dan menyebarkan informasi secara tepat agar tidak mudah terjebak dalam arus hoaks maupun disinformasi.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sharing session bersama Ketua Umum LPMA, Munir Mustaghfirin. Di hadapan para peserta, Munir menyampaikan apresiasi atas semangat belajar para siswa yang masih menaruh minat besar terhadap dunia jurnalistik. Ia menilai bahwa antusiasme seperti ini merupakan tanda bahwa kesadaran literasi mulai tumbuh di lingkungan pelajar.
Dalam pemaparannya, Munir membagikan berbagai pengalaman selama berkecimpung di pers mahasiswa, mulai dari proses peliputan lapangan, teknik wawancara, membangun sudut pandang (angle), hingga dinamika kerja redaksi yang seringkali menuntut ketelitian, keberanian, dan kepekaan sosial. Ia juga menjelaskan proses lengkap produksi karya jurnalistik, mulai dari penulisan naskah, editing, layout, hingga akhirnya dipublikasikan.
Tak hanya itu, Munir turut mengenalkan berbagai bentuk karya jurnalistik seperti straight news, feature, opini, hingga laporan mendalam. Penjelasan ini disertai contoh konkret agar siswa dapat memahami perbedaan gaya penulisan dan struktur masing-masing jenis karya.
Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada teknis jurnalistik, tetapi juga membawa misi yang lebih besar. LPMA IAI At-Taqwa menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk membumikan literasi di kalangan muda. LPMA ingin memastikan bahwa ruang belajar jurnalistik tidak hanya berhenti di bangku kuliah, tetapi juga bisa diakses oleh pelajar tingkat madrasah yang memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan dan media.
“LPMA siap mendampingi madrasah atau lembaga mana pun yang ingin mengenalkan jurnalistik kepada siswanya,” tegas Munir dalam sesi diskusi. Komitmen ini, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab sosial LPMA sebagai lembaga yang bergerak di bidang informasi, literasi, dan penguatan budaya kritis mahasiswa.
Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian materi, ditandai dengan berbagai pertanyaan yang muncul seputar proses peliputan, cara menemukan berita, hingga teknik agar tulisan dapat menarik pembaca. Atmosfer pelatihan yang hangat dan interaktif membuat sesi berlangsung lebih lama dari jadwal awal, menandakan tingginya minat siswa terhadap dunia jurnalistik.
Melalui pelatihan ini, LPMA berharap siswa MA Al-Irsayd memiliki bekal awal untuk mulai menulis, mengamati isu sekitar, dan melatih kemampuan bercerita melalui media. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal lahirnya generasi literat yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi.
Dengan pendampingan ini, LPMA mempertegas perannya tidak hanya sebagai lembaga pers kampus, tetapi juga sebagai mitra edukatif bagi lembaga pendidikan di Bondowoso dalam memperkuat tradisi literasi dan jurnalistik di tingkat pelajar.











