Lensa mahasiswa
Media pers IAI At-Taqwa Bondowoso- bergerak lewat tulisan bergerak dengan karya

Sejarah IAI At-Taqwa Bondowoso, Mahasiswa Jangan Sampai Buta Sejarah

Sejarah itu bermula jauh sebelum nama “At-Taqwa” menjadi identitas resmi kampus ini. Pada 1988, Yayasan Mahdan Walisongo merintis pendirian INAISBO (Institut Agama Islam Bondowoso) dengan membuka tiga fakultas—Tarbiyah, Syariah dan Dakwah. Para pengurus yayasan, ulama, serta cendekiawan memandang perlunya perguruan tinggi Islam yang mampu menjadi motor penggerak ilmu di Bondowoso.

Potret sore hari gedung kantor rektorat IAI At-Taqwa Bondowoso tampak depan yang berhadapan dengan Musholla At-Taqwa dan menyatu dengan kantor Yayasan At-Taqwa (8/12/2025) (Foto: Dokumentasi Lembaga Pers Mahasiswa At-Taqwa)

Oleh: Rifky Gimnastiar

(Akademisi Fakultas Tarbiyah, Pembina Lembaga Pers Mahasiswa At-Taqwa)

 

Bondowoso,Lensa Mahasiswa -Setiap institusi pendidikan tinggi pada dasarnya memiliki dua dimensi fundamental: dimensi material yang tampak secara kasatmata seperti bangunan, ruang kuliah, infrastruktur dan atribut kelembagaan serta dimensi historis yang tidak terlihat namun menjadi sumber legitimasi dan identitas akademiknya.

Ironisnya, sebagian besar mahasiswa cenderung hanya berinteraksi dengan dimensi pertama, sementara dimensi kedua dibiarkan redup dalam ketidaktahuan. Padahal, tanpa pemahaman atas sejarahnya, sebuah kampus kehilangan konteks kelahirannya dan makna keberadaannya sebagai ruang produksi ilmu.

IAI At-Taqwa Bondowoso merupakan institusi yang lahir melalui proses panjang, penuh rintangan, dan ditopang komitmen spiritual para pendirinya. Namun, sejarah tersebut tidak banyak dikenali oleh mahasiswa masa kini. Seperti arsip yang berdebu, ia hadir tetapi jarang dibuka; ada tetapi tidak dibaca. Inilah ironi akademik yang seharusnya disadari: bahwa memahami sejarah institusi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan bagian dari literasi akademik yang mendewasakan.

Sejarah itu bermula jauh sebelum nama “At-Taqwa” menjadi identitas resmi kampus ini. Pada 1988, Yayasan Mahdan Walisongo merintis pendirian INAISBO (Institut Agama Islam Bondowoso) dengan membuka tiga fakultas—Tarbiyah, Syariah dan Dakwah. Para pengurus yayasan, ulama, serta cendekiawan memandang perlunya perguruan tinggi Islam yang mampu menjadi motor penggerak ilmu di Bondowoso.

Namun gagasan besar itu tersandung persoalan administratif. INAISBO tidak memperoleh izin penyelenggaraan dari pihak berwenang. Para mahasiswa yang telah menempuh studi hingga semester enam terancam kehilangan masa depan akademiknya. Dalam situasi itu, para tokoh tidak memilih menyerah; mereka mencari jalan keluarnya.

Solusi ditemukan pada 1995 melalui merger dengan Universitas Islam Jember. Sebanyak 45 mahasiswa berhasil menyelesaikan studi S1 melalui jalur ini. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa sejarah kampus kita bukan sejarah keberuntungan, melainkan sejarah keteguhan dalam menghadapi kegagalan.

Meskipun demikian, semangat untuk mendirikan perguruan tinggi Islam yang mandiri tidak pernah padam. Bagaikan bara kecil di tengah malam yang tetap dijaga agar tidak padam, gagasan itu terus hidup di benak para tokoh agama, masyarakat, dan intelektual muda. Mereka meyakini bahwa Bondowoso membutuhkan rumah keilmuan yang kukuh dan berkarakter.

Pada Jumat, 14 Juni 2002, titik balik sejarah itu akhirnya hadir. Di Kantor Masjid Agung At-Taqwa, digelar sebuah diskusi resmi yang dipimpin oleh Drs. KH. Abd. Halim Soebahar, MA. Hadir dalam forum tersebut para tokoh sentral seperti KH. Masrur Masyhud, KH. SA. Hodari HS., Drs. KH. Imam Barmawi Burhan, dan Drs. KH. M. Kholil Syafi’ie, M.Si. Melalui musyawarah tersebut, diputuskan pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso, keputusan monumental yang menjadi fondasi kelahiran kampus ini.

Para tokoh itu bukan sekadar penandatangan. Mereka adalah sosok-sosok yang mengiringi seluruh ikhtiar dengan istighosah, memadukan kerja intelektual dengan spiritualitas. Masjid Agung At-Taqwa menjadi ruang persenyawaan antara doa dan perencanaan, antara pengabdian dan perjuangan akademik.

Selain mengandalkan spiritualitas, langkah strategis pun ditempuh. Para penggagas melakukan silaturahmi kepada Kepala Depag, Ketua MUI, Ketua DPRD, hingga Bupati Bondowoso pada era Dr. H.

Mashoed M.Si. Dukungan dari berbagai pihak memperkuat legitimasi dan kesiapan institusi baru ini. Kelahiran STAI At-Taqwa pun menjadi hasil sinergi yang melibatkan kekuatan sosial, politik, dan spiritual.

Struktur tim pendirian dibentuk secara sistematis. Drs. H. Anwar Adnan bertanggung jawab pada persiapan administrasi; Drs. KH. Imam Barmawi Burhan dan Drs. KH. M. Kholil Syafi’ie, M.Si berperan melakukan komunikasi dan lobi; sedangkan Drs. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A menyusun proposal dan dokumen akademik. Tim lainnya mengurus pendataan mahasiswa serta persiapan teknis penerimaan mahasiswa baru.

Setelah melewati serangkaian rapat, forum 17 Juni 2002 akhirnya menetapkan Drs. KH M. Kholil Syafi’ie, M.Si sebagai Ketua STAI At-Taqwa pertama. Penetapan itu bukan lahir dari ambisi, sebab tiga tokoh utama awalnya menolak karena kesibukan masing-masing. Namun sejarah selalu memilih sosok yang bersedia memikul tanggung jawab, bukan sekadar mereka yang menginginkannya.

Pada 6 September 2002, kampus resmi menerima 138 mahasiswa angkatan pertama, disusul kuliah perdana pada 13 September 2002. Setahun kemudian, 23 Juli 2003, izin penyelenggaraan Program Studi PAI terbit melalui SK Dirjen Kelembagaan Agama Islam Nomor Dj.II/247/03. Inilah fase institusionalisasi awal kampus.

Kepemimpinan kampus kemudian berjalan dalam beberapa periode: 2002–2007 dipimpin Drs. KH. M. Kholil Syafi’ie, M.Si; 2007–2013 dipimpin Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA; 2013–2017 kembali dipimpin Drs. KH. M. Kholil Syafi’ie; dan 2018–2021 dipimpin Dr. H. Akhmadi, M.Pd.I. Tiap periode membawa arah pengembangan yang berbeda, mulai dari pembangunan fisik hingga esensi kampus secara akademik.

Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A kampus mulai melakukan pembebasan lahan dan membangun Kampus II yang beralamatkan Kademangan karena Kampus I lokasinya di Masjid Agung At-Taqwa. Ini menjadi lompatan signifikan dalam perjalanan institusi. Fase berikutnya di bawah Drs. KH. M. Kholil Syafi’I, M.Si kembali menguatkan pembangunan fisik sembari merintis pembukaan prodi MPI, PGMI, dan PGRA—dengan izin MPI terbit pada 20 Januari 2015.

Memasuki 2022, estafet kepemimpinan dipegang oleh Dr. Suheri, S.Pd.I, M.Pd.I, yang membawa visi percepatan alih status menjadi institut. Melalui digitalisasi layanan akademik, peningkatan mutu jurnal, dan penguatan riset, kampus memasuki fase modernisasi. Hasilnya terlihat pada 11 Juli 2023 ketika Prodi Ekonomi Syariah (S1) dan MPI (S2) resmi memperoleh izin.

Fase penting berikutnya hadir pada 2024. Melalui SK No. 91 Tahun 2024, STAI At-Taqwa resmi berubah bentuk menjadi IAI At-Taqwa Bondowoso. Pada tahun yang sama, Prodi PIAUD dibuka melalui SK No. 595 Tahun 2024. Dengan demikian, kampus memiliki spektrum akademik yang semakin luas dan relevan.

Kini, sejak 3 Desember 2025, tongkat kepemimpinan dipegang oleh Dr. Agus Fawaid, M.Pd.I yang akan memimpin hingga 2029. Beliau membawa harapan besar transformasi akademik yang berkecepatan tinggi, peningkatan mutu kelembagaan, serta percepatan menuju universitas. Sebuah horizon baru yang membutuhkan partisipasi aktif seluruh civitas akademika, terutama mahasiswanya.

Kampus yang hari ini kita kenal dengan identitas Kampus Santri, Kampus Ber-ISI (Intlektuality, Sprituality, Integrity) semakin hari semakin berkembang baik dari segi edukasi pembelajaran akademik hingga perkembangan partisipasi kemahasiswaan basis organisasi, prestasi hingga atensi atensi dari berbagai pemangku kebijakan yang ada di area Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi.

Dari keseluruhan perjalanan ini, satu pesan harus ditegaskan: mahasiswa tidak boleh buta sejarah. Sebab ketika mahasiswa kehilangan memori kolektifnya, mereka kehilangan orientasi perjuangan. Kampus ini tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari pengorbanan; tidak tumbuh dari peluang, tetapi dari kesungguhan; tidak berkembang karena kebetulan, tetapi karena kerja keras yang panjang.

Maka sebagai mahasiswa IAI At-Taqwa Bondowoso, khususnya dari Fakultas Tarbiyah, memahami sejarah bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi etika intelektual. Kita tidak hanya menjadi penikmat fasilitas, tetapi pewaris perjuangan. Dengan memahami sejarah, kita belajar bahwa ilmu tidak tumbuh dari keajaiban, melainkan dari ikhtiar. Dan menjadi mahasiswa berarti menjadi bagian dari perjalanan itu—melanjutkan, memperkuat dan memuliakannya.

 

Nb: Tulisan ini sudah di Tashih oleh Drs. KH. M. Kholil Syafi’ie, M.Si selaku Pimpinan IAI At-Taqwa pertama sekaligus salah satu pendiri Kampus Santri, Kampus At-Taqwa Bondowoso

Penulis: Rifky GimnastiarEditor: Munir Mustaqfrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *