Lensa mahasiswa
Media pers IAI At-Taqwa Bondowoso- bergerak lewat tulisan bergerak dengan karya

Jalan Buntu

Apabila kecintaan kepada dunia menguasai hati, maka akan melemah kenikmatan dalam ketaatan.”

Gambar ilustrasi (Foto : Dokumen LPMA)

Oleh: Mahfud Junaidi, S.Pd.

Bondowos, Lensa Mahasiswa -Di kampus, kita sering terlihat sibuk. Jadwal padat, tugas menumpuk, rapat organisasi bergilir, target akademik dikejar. Anehnya, di tengah kesibukan itu, banyak yang merasa kosong. Kita berjalan, tapi tidak benar-benar tahu sedang menuju ke mana. Inilah yang sering kita sebut sebagai jalan buntu—bukan karena tak ada jalan, tetapi karena kehilangan arah.

Jalan buntu tidak selalu berarti berhenti. Kadang, ia justru menyerupai lautan yang luas dan tenang. Dari permukaan tampak diam, bahkan menakutkan. Namun di kedalamannya, ada kehidupan, ada arus, ada makna yang sedang bekerja pelan-pelan. Begitulah kebuntuan batin di dunia kampus: sunyi di luar, riuh di dalam.

Ulama klasik telah lama membaca fenomena ini. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa ketika hati terlalu terpaut pada dunia, rasa nikmat dalam berproses akan menghilang.

وَإِذَا غَلَبَ حُبُّ الدُّنْيَا عَلَى الْقَلْبِ ضَعُفَتْ فِيهِ لَذَّةُ الطَّاعَةِ

“Apabila kecintaan kepada dunia menguasai hati, maka akan melemah kenikmatan dalam ketaatan.”

Di kampus, kecintaan pada dunia sering hadir dalam bentuk yang halus: IPK, gelar, pengakuan, popularitas organisasi, dan masa depan yang serba cepat. Semua itu penting, tetapi ketika menjadi tujuan utama, proses belajar kehilangan ruhnya. Kita belajar, tetapi tidak tumbuh.

Az-Zarnuji pernah mengingatkan bahwa ilmu bisa kehilangan keberkahannya bukan karena kurang pintar, melainkan karena niat yang kabur.

 

إِنَّمَا يَحْرُمُ الْعِلْمَ بِسُوءِ النِّيَّةِ

 

“Sesungguhnya ilmu terhalang keberkahannya karena buruknya niat.”

Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak mahasiswa cerdas justru cepat lelah. Bukan karena beban akademik terlalu berat, melainkan karena hati berjalan sendirian tanpa niat yang jernih.

Jalan buntu sering muncul ketika usaha tidak sebanding dengan hasil. Sudah belajar keras, tetapi nilai biasa saja. Sudah aktif organisasi, tetapi tak juga diakui. Pada titik ini, Imam al-Ghazali mengajarkan satu kebijaksanaan penting: jangan menggantungkan bahagia pada hasil.

 

 لَا تَجْعَلْ سُرُورَكَ فِي حُصُولِ الْمَطْلُوبِ، بَلْ فِي صِدْقِ الْعُبُودِيَّةِ

“Jangan letakkan kebahagiaanmu pada tercapainya keinginan, tetapi pada kejujuran dalam penghambaan.”

Artinya, proses yang jujur jauh lebih menenangkan daripada hasil yang dipaksakan. Kampus bukan hanya tempat mengejar capaian, tetapi ruang untuk mengenal diri. Dan pengenalan diri adalah pintu awal pengenalan kepada Tuhan.

 

 مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Jalan buntu bukanlah musuh. Ia adalah jeda. Ruang sunyi agar kita berhenti sejenak, menata ulang niat, dan bertanya: untuk apa semua ini dijalani? Seperti lautan yang tenang, kebuntuan menyimpan kedalaman—asal kita berani menyelam, bukan sekadar menatap permukaannya.

Mungkin hari ini kita merasa tersesat. Tidak apa-apa. Di kampus, tersesat adalah bagian dari belajar. Yang berbahaya bukan tersesat, tetapi berjalan terlalu lama tanpa pernah bertanya arah.

Dan bisa jadi, jalan buntu itu bukan akhir perjalanan. Ia hanyalah tanda bahwa kita sedang dipersiapkan untuk melangkah dengan arah yang lebih benar, hati yang lebih jernih, dan tujuan yang lebih bermakna.

Daftar Referensi

Al-Ghazali, Imam. Ihya’ ‘Ulumuddin, Juz III. Beirut: Dar al-Fikr, 2005.
Al-Ghazali, Imam. Risalatul Mu’awanah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004.
Al-Ghazali, Imam. Bidayatul Hidayah. Surabaya: Al-Hidayah, 2010.
Az-Zarnuji. Ta’limul Muta’allim. Surabaya: Al-Hidayah, t.t.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *