Lensa mahasiswa
Media pers IAI At-Taqwa Bondowoso- bergerak lewat tulisan bergerak dengan karya

Refleksi Kartini Hari Ini: Dari Skin Care Menuju Brain Care

Perempuan ideal bukan yang paling menarik di mata, tapi yang paling kuat dalam Brain Personality, paling tulus dalam Inner Beauty dan paling berkelas dalam Behavior Quality. Selamat Hari Kartini 2026 Masehi

Oleh: Rifky Gimnastiar (Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah)

Bondowoso, lensamahasiswa — Perempuan ideal bukanlah mereka yang sekadar “menarik di mata”, tetapi yang kokoh dalam brain personality, tulus dalam inner beauty dan berkelas dalam behavior quality. Pernyataan ini bukan sekadar slogan motivasional, melainkan kritik halus terhadap kecenderungan zaman yang terlalu menempatkan perempuan dalam kerangka estetika, bukan esensi.

Di era kemajuan digitalisasi hari ini, standar kecantikan sering direduksi menjadi skin care routine, visual branding dan validasi sosial media. Padahal, jika merujuk pada jejak historis Raden Ajeng Kartini, perjuangan perempuan justru berakar pada keberanian intelektual dan kesadaran eksistensial.

Kartini hidup sebagai antitesis dari budaya pembatasan. Ia lahir dalam struktur feodal yang membatasi ruang gerak perempuan, bahkan harus menjalani tradisi pingitan yang secara sistemik menutup akses pendidikan.

Namun di tengah keterbatasan tersebut, Kartini tidak menyerah pada keadaan. Ia membangun “ruang belajar alternatif” melalui ibadah literasi seperti membaca buku, surat kabar, dan berdialog dengan karya-karya pemikiran barat.

Dalam hal ini terlihat bahwa brain care bukan konsep baru; RA. Kartini telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah brain care familiar hari ini. Ia membuktikan bahwa kualitas perempuan tidak ditentukan oleh apa yang tampak sebagai penampilan tetapi oleh potensi diri yang lebih mengacu terhadap kualitas diri.

Dalam perspektif ilmiah, perjuangan Kartini dapat dibaca sebagai bentuk emancipatory consciousnes yakni upaya akan menyadarkan kebebasan diri dari struktur yang feodalis. RA Kartini tidak hanya mengkritikisi budaya patriarki, tetapi juga menawarkan solusi kongkrit berupa pendidikan perempuan.

Upayanya mengajarkan praktik literasi kepada perempuan sekitar menjadi bukti nyata bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang kekuasaan, tetapi dari praktik kecil kecil an yang konsisten dilakukan. Inilah yang kemudian melandasi lahirnya Sekolah Kartini di berbagai daerah, kala itu, sebagai representasi nyata dari sumber segala gagasannya.

Penetapan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April mustinya menjadi refleksi kritis yang transformatif, sejauh mana perempuan hari ini melanjutkan riil gagasan tersebut?

Apakah perempuan hari ini serius merdeka atau justru ada dalam lingkaran penjajahan baru yang mendominasi kecenderungan emosional seperti standarisasi kecantikan dan objektifikasi algoritma sosial media?

Jika perempuan lebih sibuk memperdebatkan produk kecantikan daripada meningkatkan kapasitas diri, maka secara otomatis terjadilah posisi kemunduran berparadigma.

RA Kartini memproduksi karya-karya pemikirannya yang dikolektifkan dalam buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menginspirasikan bahwa terang yang dimaksud bukan sekadar keterangan fisik tetapi juga keterangan akal.

Terang artinya mampu berpikir kritis, membaca realitas secara jernih dan mengambil posisi strategis dalam perubahan sosial. Perempuan hari ini perlu merekonstruksi orientasi hidupnya: dari sekadar “ingin terlihat cantik” menjadi “ingin menjadi berkualitas”.

Bagi mahasiswa perempuan, tantangan ini menjadi semakin relevan. Kampus bukan hanya bangku akademik tetapi juga bangku pembentukan kesadaran akan realitas zaman. Perempuan harus hadir sebagai subjek aktif bukan objek pasif dalam arena intelektual, gerakan sosial dan kepemimpinan organisasi.

Brain personality harus diasah melalui literasi, diskusi, dan keberanian berargumentasi. Inner beauty dibangun melalui integritas moral dan empati sosial. Sementara behavior quality tercermin dalam etika, konsistensi dan tanggung jawab.

Refleksi RA Kartini mengajarkan satu hal penting: kualitas tidak pernah lahir dari kenyamanan tetapi dari penderitaan proses. Maka perempuan hari ini perlu jujur bercermin, apakah sedang merawat kualitas atau sekadar merawat penampilan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *