Bondowoso – Gelaran Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 IAI At-Taqwa Bondowoso berlangsung dengan nuansa berbeda. Sebelum mahasiswa baru (MABA) menampilkan pentas seni, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) lebih dulu membuka panggung dengan aksi simbolik yang sarat makna di halaman kampus.
Dalam Demontrasi itu, seorang mahasiswa bernama Intan dari Program Studi Menejemen Pendidikan Islam (MPI) tampil menonjol dengan kebaya klasik, menghadirkan citra Kartini masa kini. Ia berdiri tegak sambil mengangkat poster bertuliskan “Kami Menolak Bungkam.” Di belakangnya, para pengurus LPM lainnya hadir dengan busana bernuansa hitam, menambah kesan tegas, solid, dan penuh simbol perlawanan.
Momen tersebut seketika menyedot perhatian peserta PKKMB. Suasana yang semula riuh berubah hening sesaat, lalu disambut tepuk tangan panjang dari mahasiswa baru. Aksi ini dipandang lebih dari sekadar perkenalan UKM, tetapi juga deklarasi bahwa LPM hadir sebagai garda kritis kampus yang menolak segala bentuk pembungkaman suara mahasiswa.
Kebaya yang dikenakan Intan menjadi simbol keberanian sekaligus penghormatan terhadap semangat Kartini, sementara nuansa hitam dari pengurus LPM menggambarkan konsistensi, kesolidan, dan sikap tegas terhadap isu kebebasan berekspresi. Kombinasi itu membuat pesan yang disampaikan LPM terasa kuat, dalam, dan penuh makna.
Penampilan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa PKKMB tidak hanya berhenti pada materi akademik dan hiburan, tetapi juga ruang menanamkan kesadaran kritis. Dengan tampil lebih dulu sebelum pentas seni mahasiswa baru, LPM berhasil menyampaikan pesan bahwa kreativitas harus berjalan seiring dengan keberanian menyuarakan kebenaran.
Aksi simbolik LPM pun memberi warna tersendiri pada PKKMB 2025. Jika pentas seni mahasiswa baru menampilkan bakat budaya, maka LPM hadir sebagai representasi perjuangan intelektual dan suara kritis mahasiswa yang tak boleh padam di ruang kampus.







